3 Stasiun Djakarta Tempo Doeloe
Stasiun Batavia (Stasiun Kota)
Stasiun Batavia (Stasiun Jakarta) Pada masa lalu, karena terkenalnya
stasiun ini, nama itu dijadikan sebuah acara oleh stasiun televisi
swasta. Hanya saja mungkin hanya sedikit warga Jakarta yang tahu apa
arti Beos yang ternyata memiliki banyak versi.
Yang pertama, Beos kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg
Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah
perusahaan swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh. Versi
lain, Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia
dan Sekitarnya, dimana berasal dari fungsi stasiun sebagai pusat
transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain
seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java
(Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.
Sebenarnya, masih ada nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni
Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan. Nama ini muncul
karena pada akhir abad ke-19, Batavia sudah memiliki lebih dari dua
stasiun kereta api. Satunya adalah Batavia Noord (Batavia Utara) yang
terletak di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang. Batavia
Noord pada awalnya merupakan milik perusahaan kereta api
Nederlandsch-Indische Spoorweg, dan merupakan terminus untuk jalur
Batavia-Buitenzorg. Pada tahun 1913 jalur Batavia-Buitenzorg ini dijual
kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh Staatsspoorwegen.
Pada waktu itu kawasan Jatinegara dan Tanjung Priok belum termasuk
gemeente Batavia.
Batavia Zuid, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada
tahun 1926 untuk renovasi menjadi bangunan yang kini ada. Selama
stasiun ini dibangun, kereta api-kereta api menggunakan stasiun Batavia
Noord. Sekitar 200 m dari stasiun yang ditutup ini dibangunlah Stasiun
Jakarta Kota yang sekarang. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929
dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya
dilakukan secara besar-besaran dengan penanaman kepala kerbau oleh
Gubernur Jendral jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada Hindia Belanda
pada 1926-1931.
Di balik kemegahan stasiun ini, tersebutlah nama seorang arsitek Belanda
kelahiran Tulungagung 8 September 1882 yaitu Frans Johan Louwrens
Ghijsels. Bersama teman-temannya seperti Hein von Essen dan F. Stolts,
lelaki yang menamatkan pendidikan arsitekturnya di Delft itu mendirikan
biro arsitektur Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA). Karya biro
ini bisa dilihat dari gedung Departemen Perhubungan Laut di Medan
Merdeka Timur, Rumah Sakit PELNI di Petamburan yang keduanya di Jakarta
dan Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta.
Stasiun Beos merupakan karya besar Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan
Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern
barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat. Dengan balutan
art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski
bercita rasa tinggi. Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan
adalah jalan terpendek menuju kecantikan.
Stasiun Gambir
Stasiun Gambir adalah stasiun kereta api terbesar di Daerah Khusus
Ibukota Jakarta, Indonesia dan terletak di Gambir, Gambir, Jakarta
Pusat. Stasiun ini dibangun pada dasawarsa 1930-an dan mendapatkan
renovasi secara besar-besaran pada 1990-an. Stasiun Gambir melayani
transportasi kereta api untuk tujuan-tujuan utama di Pulau Jawa. Di
stasiun ini, tersedia pula bus DAMRI untuk menuju Bandara Soekarno
Hatta. Stasiun ini berada di Daerah Operasi 1 Jakarta.
Stasiun JatiNegara
Stasiun Jatinegara sebelum kemerdekaan bernama Stasiun Meester Cornelis
adalah sebuah stasiun kereta api di daerah Jatinegara, Jakarta Timur.
Stasiun ini merupakan stasiun bertemunya tiga jalur, yaitu jalur ke
Pasar Senen, jalur ke Manggarai, dan jalur ke Bekasi. Setiap harinya
dilewati sekitar 350 kereta api. Di dekat stasiun ini terdapat dipo
lokomotif.
Sebagai stasiun penghubung ke luar Jakarta, stasiun ini dilalui oleh
semua KA ke berbagai kota di Pulau Jawa (kecuali tentu saja ke arah
Banten dan Bogor). Namun demikian, tidak semua KA yang ke luar dari
Jakarta berhenti untuk menaikkan penumpang di stasiun ini. Hanya KA
ekonomi dan KA bisnis yang berhenti untuk menaikkan penumpang dalam
perjalanan menuju kota-kota di Jawa, sedangkan semua KA eksekutif,
kecuali KA Argo Gede, KA Argo Jati, dan KA Sembrani tidak berhenti di
sini. Tetapi, semua KA yang datang menuju Jakarta berhenti untuk
menurunkan penumpang di stasiun ini.
Stasiun jaman dulu dan jaman sekarang sangat jauh berbeda,meskipun jaman
dulu sangat jauh dari kata Modern tapi terlihat sangat bersahaja dan
tidak riskan kejahatan.beda dengan stasiun jaman sekarang berkesan seram
dan banyak sekali tindak kejahatan yang terjadi tiap harinya bahkan
tiap jamnya.
kapan bangsa ini mau maju klo dari setiap generasi ke generasi moral bangsa kita semakin ancur..??
http://forum.detik.com/