20 Tahun Berpulangnya Freddie Mercury
Jakarta - Goodbye everybody - I've got to go
Gotta leave you all behind and face the truth
Lirik
ini dinyanyikan dengan gaya aria beraura rock oleh Freddie Mercury pada
epic bertajuk “Bohemian Rhapsody” bersama bandnya Queen dalam album A Night At The Opera
di tahun 1975. Pada 24 November 1991, Freddie yang dilahirkan dengan
nama asli Farrokh Bulsara ini betul-betul pergi meninggalkan kita semua
termasuk jutaan pemuja Queen yang terkejut mendengar kabar berpulangnya
Freddie yang terasa seperti sebuah sekonyong konyong yang tak
terbantahkan.
Berpulangnya Freddie dalam usia 45 tahun di
kediamannya di Kensington, Inggris diumumkan media secara serempak pada
dini hari 25 November 1991. Lebih mengejutkan lagi beberapa hari setelah
berpulangnya lelaki berkumis tebal ini, mencuat sebuah kabar yang
sebetulnya bukan hal yang terlalu mengejutkan bagi sebagian orang.
Freddie
Mercury yang dilahirkan di Stone Town, Zanzibar pada 5 September 1946
meninggal karena berkaitan dengan HIV. Sebelum menghembuskan nafas
terakhir, Freddie Mercury pada tanggal 22 November 1991 sempat
mengundang Jim Beach, manajer Queen ke Kensington. Mereka berdua
berembuk untuk menyusun sebuah pengumuman ke publik perihal penyakit
yang diidap Freddie selama ini. Pernyataan itu berbunyi seperti ini:
Following
the enormous conjecture in the press over the last two weeks, I wish to
confirm that I have been tested HIV positive and have AIDS. I felt it
correct to keep this information private to date to protect the privacy
of those around me. However, the time has come now for my friends and
fans around the world to know the truth and I hope that everyone will
join with me, my doctors, and all those worldwide in the fight against
this terrible disease. My privacy has always been very special to me and
I am famous for my lack of interviews. Please understand this policy
will continue.
Pernyataan ini setidaknya melegakan, terutama
bagi Freddie Mercury yang telah merahasiakan hal ini sejak tahun 1987.
Saat itu, menurut Jim Hutton, kekasih Mercury, vokalis Queen ini telah
didiagnosa mengidap AIDS. Saat itu juga, Freddie selalu membantah
perihal penyimpangan seksual yang dijalaninya dihadapan para jurnalis.
Tahun
1990 kesehatan Freddie kian memburuk. Queen sempat stagnan dalam
melakukan tur konser. Langkah Freddie kerap dikuntit fotografer yang
ingin mendapatkan gambar kondisi Freddie sesungguhnya. Koran The Sun
akhirnya mempublikasikan foto terkini Freddie Mercury pada terbitan 29
April 1991 yang terlihat kuyu dan kurus. Namun pihak Queen dan
kerabatnya sepakat membantah tentang keterkaitan Freddie dengan virus
HIV yang mematikan itu. Kondisi raga Mercury yang ringkih dan sangat
kurus jelas terlihat pada video klip ”These Are Days Of Our Lives” yang
di syuting pada Mei 1991.
Setelah merampungkan album Queen
pada Juni 1991, Freddie mengambil cuti di rumahnya di Kensington. Mantan
kekasihnya di era 70an Mary Austin berada disamping Freddie. Mary
merawat Freddie yang telah lunglai dalam pembaringan. Freddie bahkan
mulai mengalami kesulitan untuk melihat. Kondisi Freddie sangat miris
dan memilukan. Freddie bahkan mulai menolak perawatan medis tersebut.
Dia tampak siap untuk meninggalkan dunia fana ini.
Koran The Sun kemudian membuat headline “Freddie Is Dead” dengan foto Freddie di atas panggung bertelanjang dada dengan latar belakang bendera Inggris Union Jack.
Rasanya
tak hanya penggemar Queen yang terisak, bahkan seluruh peminat pop dan
rock berkabung atas kepergian sosok multitalenta Freddie Mercury.
Freddie
Mercury adalah tokoh sentral Queen. Dia merancang logo Queen. Dia
menjadi penyanyi utama Queen sembari memainkan piano. Freddie Mercury
menulis 10 dari 17 hits besar Queen dari tahun 1971 hingga ajal
menjemputnya. Lagu lagu itu antara lain “Seven Seas Of Rhye,” “Killer
Queen,” “Bohemian Rhapsody,” ”Somebody To Love,” “We Are The Champion,”
“Don’t Stop Me Now,” “Bicycle Race,” “Crazy Little Thing Called Love”
dan “Play The Game.”
Sejak usia 7 tahun Freddie telah mahir
bermain piano. Di usia 12 tahun Freddie membentuk band sekolahan bernama
The Hectics. Freddie mendapat diploma dalam bidang seni dan desain
grafis pada Ealing Art College. Kemampuan seni rupanya ini lalu
diterapkan dalam membuat logo Queen serta rancangan grafis beberapa
album Queen. Di tahun 1969 dengan pengaruh dari Jimi Hendrix dan Led
Zeppelin, Freddie mulai terkena virus rock dengan berganbung dengan band
bernama Ibex yang kemudian berubah nama menjadi Wreckage.
Ketika
Wrecakge dianggap mentok, Freddie lalu bergabung dengan band lain di
antaranya Sour Milk Sea yang juga usianya hanya seumur jagung saja. Di
tahun 1970 Freddie bergabung dalam Smile yang digawangi Roger Taylor
(drum) dan Brian May (gitar). Ketika John Deacon ikut bergabung dalam
Smile, Freddie lalu mengubah Smile menjadi Queen meski awalnya ditentang
oleh Roger Taylor dan Brian May.
”Saya tahu nama Queen memiliki
konotasi dengan gay. Tapi nama Queen mudah diingat,” timpal Freddie yang
saat itu juga mengubah nama belakangnya Bulsara menjadi Mercury.
Kekuatan
utama Freddie yang mencuat adalah karakter vokal yang mumpuni. Meskipun
Freddie memiliki suara dasar baritone tapi dalam upaya menyanyikan
sebagian besar lagu Freddie mampu menempatkan range vokalnya pada
wilayah tenor. Belum lagi jika Freddie mulai mendaki wilayah tinggi
dengan berfalsetto yang dilumuri aura soulful. Warna suara Freddie
memang lentur. Dia mampu menyentuh aura aria penyanyi tenor klasik tapi
mampu meliuk secara soulful bagai cengkok Aretha Franklin, sang ratu soul yang kesohor itu.
Dalam
solo karirnya Freddie Mercury bahkan pernah berduet dengan penyanyi
soprano Spanyol Montserrat Caballe dalam “Barcelona.” Berduet dengan
David Bowie dalam “Under Pressure” bahkan di tahun 1983 Freddie berduet
dengan Michael Jackson. Duet ini rencananya akan dirilis dalam waktu
dekat setelah musiknya didandani lagi oleh Roger Taylor dan Brian May.
Berbeda dengan penampilan panggungnya yang flamboyan, Freddie sebetulnya adalah sosok pemalu yang introvert.
Jarang melakukan wawancara dengan jurnalis. ”Tapi saya kan berubah
menjadi pribadi yang berbeda saat di atas panggung.Saat itu saya adalah
lelaki yang sangat ekstrovert,” ungkapnya.
Dan 20 tahun
yang silam ketika terbetik kabar berpulangnya Freddie Mercury, saya yang
masih berkiprah sebagai penyiar di sebuah radio swasta pun mulai
memutar lagu-lagu Queen yang memorable. Jika kita simak, Freddie
sebetulnya banyak menyusupkan pesan pesan khusus dalam lirik lirik
lagunya.
Freddie Mercury seperti meramal jalan kehidupannya sendiri.
The Show must go on! Yeah!
Inside my heart is breaking,
My make-up may be flaking,
But my smile, still, stays on!
Whatever happens, I'll leave it all to chance.
Another heartache - another failed romance.
On and on...
Does anybody know what we are living for?
sumber:http://rollingstone.co.id